Saat-saat
paling sulit adalah ketika sendirian, jauh dari keluarga dan orang-orang
terdekat. Sekedar berbagi pengalaman, 3 bulan pertama ngekos terasa berat bagi saya, (berat banget malah), terkadang
terlintas difikiran saya perkataan ‘untuk
apa saya hidup?’__ lebih tepatnya sama sekali tidak bisa berfikir jernih.
Namun yang terus saya yakini adalah bahwa semua yang saya alami hanya perlu
dijalani, jadi solusi terbaik adalah bertahan. Bertahan, apapun yang terjadi. Tentunya supaya
bisa terus bertahan kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah dan selalu
berdoa. Selain itu saya suka sekali menggunakan ‘cara lama’, yaitu mencurahkan perasaan saya melalui puisi, ini
contoh puisi yang saya buat saat fikiran saya super kalut
Benang
Kusut
Sebuah
jalan yang penuh dengan benang-benang kusut
Berwarna
kelabu dan berbelit,
Menjerat
segala materi yang melewatinya
Dan
benang pun semakin kusut
Terjebak!
Mungkin
definisi ‘solusi’ sudah berevolusi
Tak ada
jalan keluar pada jalan yang buntu
Tak ada titik
terang pada ruang tak berlilin
Benang
yang kusut tak mungkin pulih lagi…
Patah,
patah, patah!
Lapuk,dan
pasti akan patah
Just stay
inside
Ada
tenaga dalam benda yang lapuk
Ada
tolakan kuat pada benda yang patah
Dan suatu
ketika..
Patahan
nya memekakkan telinga para imitasi…
Perhatikan pada lima bait terakhir,
saya seolah memberikan semangat pada diri saya sendiri, padahal saya ingat
betul pada saat itu semangat saya sudah hilang sama sekali, tapi itulah manfaat
kata-kata, itulah manfaat puisi, terkadang tidak memberikan solusi, namun
menambah tenaga. Menulis puisi lebih baik daripada mencurahkan perasaan pada berbagai
media social yang menurut saya malah memperburuk keadaan, menulis puisi selain
dapat menghasilkan sebuah karya tentunya berfungsi baik untuk mengasah rasa
bahasa. Just try it ! ;-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar