Kamis, 11 Desember 2014

About Poem




Saat-saat paling sulit adalah ketika sendirian, jauh dari keluarga dan orang-orang terdekat. Sekedar berbagi pengalaman, 3 bulan pertama ngekos terasa berat bagi saya, (berat banget malah), terkadang terlintas difikiran saya perkataan ‘untuk apa saya hidup?’__ lebih tepatnya sama sekali tidak bisa berfikir jernih. Namun yang terus saya yakini adalah bahwa semua yang saya alami hanya perlu dijalani, jadi solusi terbaik adalah bertahan.  Bertahan, apapun yang terjadi. Tentunya supaya bisa terus bertahan kita harus selalu mendekatkan diri kepada Allah dan selalu berdoa. Selain itu saya suka sekali menggunakan ‘cara lama’, yaitu mencurahkan perasaan saya melalui puisi, ini contoh puisi yang saya buat saat fikiran saya super kalut

Benang Kusut

Sebuah jalan yang penuh dengan benang-benang kusut
Berwarna kelabu dan berbelit,
Menjerat segala materi yang melewatinya
Dan benang pun semakin kusut
Terjebak!

Mungkin definisi ‘solusi’ sudah berevolusi
Tak ada jalan keluar pada jalan yang buntu
Tak ada titik terang pada ruang tak berlilin

Benang yang kusut tak mungkin pulih lagi…

Patah, patah, patah!
Lapuk,dan pasti akan patah
Just stay inside
Ada tenaga dalam benda yang lapuk
Ada tolakan kuat pada benda yang patah
Dan suatu ketika..
Patahan nya memekakkan telinga para imitasi…

Perhatikan pada lima bait terakhir, saya seolah memberikan semangat pada diri saya sendiri, padahal saya ingat betul pada saat itu semangat saya sudah hilang sama sekali, tapi itulah manfaat kata-kata, itulah manfaat puisi, terkadang tidak memberikan solusi, namun menambah tenaga. Menulis puisi lebih baik daripada mencurahkan perasaan pada berbagai media social yang menurut saya malah memperburuk keadaan, menulis puisi selain dapat menghasilkan sebuah karya tentunya berfungsi baik untuk mengasah rasa bahasa. Just try it ! ;-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar